JIKA AKU MENGGUGAT

Jika Sapardi Djoko Damono mengatakan “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”,

Maka aku ingin mengatakan padamu “ Aku ingin mencintaimu dengan kerumitan yang ada”

Jika orang lain berkata “ tidak ada yang tidak mungkin didunia ini”

Maka aku ingin bertanya “ kenapa aku tak juga mendapatkannya?”

 

Aku menggugat,

menggugat semua orang yang berkata “kamu pasti bisa”

Persetan kawan, kalian tidak merasakan tembok perbedaan yang selalu aku hantam.

Tembok tebal yang tak terukur dan membayang

 

Aku mengutuk,

Mengutuk kalian yang membisik “ kamu bakal baik-baik saja kok”

dan  aku akan berteriak ditelingamu

‘Tidakkkk, aku tidak baik-baik saja, percayalah”

 

Karena

Aku mencintaimu dengan perbedaan yang menjuntai lebar

Aku mencintaimu dengan segala ketidakmungkinan

 

Dan

Aku menyayangimu dengan keraguan tentang masa depan,

yang tidak satu setan pun tahu

Aku menyayangimu ditengah gempuran penghakiman keyakinan

Yang Tuhan pun tidak bersuara tentang itu

 

karena

“ Aku ingin mencintaimu dengan kerumitan  yang ada”

 

Yogyakarta, 9 Aparil 2011, Pukul 18.22

 

 

 

 

 

Advertisement

MUNA

“Munafik!!” hujat setan kepada malaikat

“Tidak, kaum kamu yang munafik” jawab malaikat tidak mau kalah

“Munafik” serang setan tak berjeda

“Tidaak” balas malaikat

“Munafik” setan tiada ampun untuk meyerang

“Tidak kepaaarat!!” jawab malaikat tanpa sesal

“Hahahahahahahaha” dan setan tertawa terpingkal-pingkal

“Kenapa kau tertawa bangsat?” kesal si malaikat untuk menggugat

“Teruslah berkata tidak, karena semua makhluk yang menolak kemunafikan adalah  munafik sejati, jadi mari kita rayakan kemunafikan”.

 

 

Yogyakarta, 7 April 2011, 21.16

 

 


Kabar Oemar Bakrie

Wahai Oemar,

Bagaimana kabarmu?

Wahai Bakrie,

Masih kau sering mengucapkan selamat pagi kepada muridmu?

Wahai Oemar,

Apa masih gajimu dikebiri?

Wahai Bakrie,

masihkah kau membawa sepeda kumbang dengan jalan yang berlubang?

Oemar Bakrie 40 tahun kamu mengabdi

dan masihkah  kamu makan hati?

Yogyakarta, 7 april 2011,pukul 22.13


Ketika gundik meminta dipanggil Nyai Ontosoroh

Penulis naskah : Faiza Mardzoeki
Sutradara : Wawan Sofyan
Pemain : Sita Nursati = Nyai Ontosoroh
Willem Bevers = Mr HermanMellema
Bagus Setiawan = Mingke
Agni Melati = Sanikem dan Annelies

“ kita kalah ,Ma “ ujar Mingke, “kita kalah tapi kita telah melawan” jawab Nyai Ontosoroh

Itulah penggalan penutup drama berjudul “Mereka memanggilku Nyai Ontosoroh”, Sabtu 26/3 di Teater Salihara, Pasar Minggu. Pertunjukan ini merupakan adaptasi Faiza Mardzoeki dari roman Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Pergelaran drama ini dipentaskan untuk menyambut hari perempuan international pada tanggal 8 Maret.

Pertunjukan yang dimainkan oleh 4 aktor ini, menceritakan perjuangan seorang remaja yaitu Sanikem yang diperankan oleh Agni Melati. Seorang gadis desa yang “dijual” oleh ayahnya sebesar 25 gulden kepada administrator pabrik gula Mr Herman Mellema yang diperankan oleh Willem Bevers. Sanikem yang bergelar gundik, awalnya hanya tahu mengenai ranjang dan dapur. Namun perjalanan waktu, Mr Mellema mendidik Sanikem belajar dengan pemikiran barat. Diberikan bacaan buku-buku berbahasa belanda Hingga pada akhirnya dia menjelma menjadi wanita yang mengerti akan hak-haknya, Bahwa manusia pada dasarnya sama, Tidak perduli dia keturunan pribumi atau londo.
Nyai Ontosoroh digambarkan wanita yang berfikiran modern pada jamannya. keberaniannya menggugat anak Mr Herman Mellema dari istri Tuanya lewat pengadilan putih di Surabaya yang ingin mengambil hak asuh Annelies, darah dagingnya sendiri. Perbuatannya sebagai pribumi lebih-lebih seorang gundik mejadi bukti akan perilakunya yang tidak takut pada siapapun terlebih para penguasa Belanda. Walau pada akhirnya Nyai kalah dan hak asuh Annelies dimenangkan oleh Ir. Maurits Meleema anak dari istri tua Mr Herman Mellema beliau menginspirasi akan kebangkitan perempuan untuk merenggut hak-haknya.
Drama dengan durasi 90 menit ini merupakan versi baru dari Drama Nyai Ontosoroh yang berdurasi tiga jam lamanya. Pada 2010, Drama Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh telah sukses dipentaskan di Tropentheater, Amsterdam; Tong Tong festival, Den Haag dan di Zuiderpershuis Culturel Centrum, Antwerpen
Pertunjukan yang selama 2 hari ini tiketnya selalu sold out. Menggunakan alur cerita kilas balik, Drama yang disutradarai oleh Wawan Sofyan berhasil memukau penonton,idibuktikan dengan standing applause yang panjang.


kekuatan makna kata

Lawan(dengan)kata


Senjataku adalah barisan kata.

Amunisiku, tinta maupun darah.

Bulan-bulananku adalah penguasa yang berkompromi

dengan setan.

 

Menghujam ketidakadilan hingga menusuk relung terdalam.

Mengasah kehakikian nurani,

Menggapai keadilan yang suci.

 

Impianku hanya satu,

Tak kan ku biarkan ketidakadilan mengambil peran.

Kusingkirkan tirani yang nampak dipermukaan.

 

Ya, gejolak ku menggelora

Jika dunia dan seiisinya

hanya dijadikan boneka para penguasa

Mari kawanku, lawan mereka yang berbuat durja.

Yogyakarta, 12 februari 2011


Nama Baruku

Racun Sang Kompor

 

Kompor nama depanku

Provokator nama belakangku

Julukanku yang terbaru

Sedih?

Tidak

Aku bangga.

Keberadaanku adalah racun

Meracuni setiap adicita penghuni dunia

Tapi resapilah racunku

Nikmati seperti candu

Memabukan dan memusingkan kepala.

tentunya

racunku adalah ramuan pergulatan batin dan jiwa manusia

 

 

Yogyakarta, 22 Februari 2011, Pukul 21.30 WIB,


Sungguh Memilukan

Surban melilit dipudak

Peci terpakai rapih di kepala

Koko  putih bersih terpakai seperti insan suci

Sarung  merek ternama terlipat rapih tanpa cela.

Solat selalu tiada telat

Komat kamit bibir tidak berhenti melantunkan dzikir

Haji pun sudah ditunaikan lebih dari sekali.

Tapi

Tapi dia korupsi

Tuhan dianggapnya buta

Dia berharap Tuhan lalai

ketika dia berbuat laknat

ritual ibadah hanya untuk mengisi waktu luang

tidak lebih.

sungguh Memilukan

Yogyakarta,2 Maret 2011

Continue reading

Sang Perintis

Sang Perintis

R. M Tirto Adhi Soerjo

1880-1918

“..Tadjam sekali belioe poenja penna, banjak Pembesar-pembesar jang kena crietiknja djadi moentah darah dan sebagian besar soeka memperbaiki kelakoeannja jang koerang senonoh.” Mas Marco Kartodikromo (1890-1935)

Julukannya adalah sang perintis, disematkan atas perlawanannya sebagai pelopor dalam melawan sikap feodal pada jaman kolonial melalui jalan jurnalistik. Nyaris mati cerita legendanya, tengggelam tak tersisa, jika Pramoedya tak mengisahkannya.

Djokomono nama kecilnya dan minke julukan dalam tetralogi pulau buru ialah sang perintis, R.M Tirto Adhi Soerjo. Insan manusia yang lahir di Bojonegoro ini, merupakan Jawa pertama yang melakukan advokasi jurnalistik dalam mengawal pendapat masyarakat yang tertindas. Perjalanan hidupnya sendiri terkisah dalam buku  kontorversial Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca)

Sang Pemula adalah buku autobiografi yang dituliskan oleh Pramoedya untuk mengangkat kembali ingatan masyarakat atas jasa-jasanya, bahwa Raden Mas Tirto adalah pribumi pertama yang  mempunyai dan menggerakan terbitan koran yang bernama Medan Prijaji. Medan Prijaji sendiri muncul sebagai penanda pers kebangsaan yang memprakarsai  bentuk perlawanan baru terhadap penguasa koloni, setelah selama ini perlawanan hanya dalam bentuk peperangan.

Prinsip R.M Tirto Adhi Soerjo tentang “Pers yang berpolitik” menjadi kekuatannya dalam membela kepentingan bangsa Indonesia dari pemeritahan kolonial. Bagaimana dia menampar penguasa yang feodal melalui barisan kata sarat makna. Sebab pers  di jaman dulu bersikap netral, tetapi hanya bermain aman. Sikap beliau dalam mendobrak kebiasaan pers pada saat itu menjadi cikal bakal pergerakan nasional.

Selain memberitakan kondisi masyarakat ketika itu, Melalui media koran juga, R.M Tirto Adhi Soerjo  melakukan bantuan hukum, penyuluhan keadilan ,mencarikan pekerjaan dll. Inilah kekuatan beliau dalam mengadvokasi masyarakat melalui media jurnalistiknya.

Atas kiprahnya sebagai boemi poetra pertama, yang juga sebagai perintis pers nasional, beliau mendapat pengukuhan sebagai bapak Pers nasional pada tahun1973 dan pada tahun 2006 pemrintah melengkapi dengan gelar Pahlawan nasional atas jasanya menggerakan kesadaran lewat jalan pers. Selamat hari pers kawan seperjuangan, Taruhlah ketakutan dibawah tumitmu!


“Polisi-Polisi” moral

inilah mereka-mereka yang dengan congkak dan sok tahunya menghakimi bahwa kamu salah dan saya benar.Merasa yang paling tahu dosa dan pahala. Memaksakan apa yang ada diotak saja. Tidak pernah mengerti itu salah atau benar didepan hukum, “polisi-polisi” ini smenghalalkan segala cara,tidak peduli itu meninggalkan derita dan duka. Mereka akan terus mengahantam dan memaksakan, berfikir dangkal, tidak mengerti keberagaman dan perbedaan.

“polisi-polisi moral”  ini tidak lebih baik daripada bedebah.

segala sesuatunya sudah ada porsinya.Bahwa polisi(dalam artian yang sebenarnya) lah yang patut menindak.Ada pihak dimana mereka mempunyai tugas dan wewenang dalam menindak mereka yang telah keluar dari aturan.

Jadi manusia mana yang ingin mendefinisikan moral?

Tentang isi hati siapa yang paling tahu?

Jadi berhentilah menghakimi .




“Barang siapa yang mengangkat pena untuk mengarang,

maka ia melakukan suatu perjuangan”

Voltaire

Continue reading